Faktor Mourinho Ditendang MU

Jose Mourinho dan Paul Pogba (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

23/12/2018 435

LABRITA.ID - Jose Mourinho merupakan sedikit pelatih di dunia yang mampu menaklukkan 3 liga terbaik Eropa. Pelatih Portugal ini menjuarai Liga Inggris bersama Chelsea, bersama Internazionale Milan menaklukkan Liga Italia, dan memimpin Real Madrid memenangi Liga Spanyol. Ia juga menjuarai Liga Champions Eropa bersama FC Porto dan Inter Milan.

Kedatangannya ke Manchester United disambut hangat pendukung karena CV-nya yang luar biasa tersebut. Mourinho gagal memberi mahkota juara liga utama kepada MU sebelum dipecat. Apa saja faktor kegagalan selain Mourinho sendiri.

Baca Juga: Akhir Musim MU, Akhir Mourinho atau Pogba


Pertama, MU punya legenda yang berbeda dengan klub lainnya yaitu Alex Ferguson. Pelatih asal Skotlandia ini menangani MU selama 21 tahun. Ia memberikan 15 gelar Liga Inggris kepada Red Devil. Trademark Ferguson adalah menyerang tanpa kenal lelah dan hair dryer.

Selain Mou, 2 pelatih top yaitu David Moyes dan Louis van Gaal juga gagal melatih MU. Ferguson mewariskan Tim MU yang sedang menurun kualitasnya. Tidak ada pemain yang menjadi pemimpin di lapangan.

Moyes, van Gaal, dan Mourinho harus membangun ulang tim. Tim MU baru ini berbeda dengan model Ferguson yang menyerang terus menerus. van Gaal terkenal dengan Total Football dan Mourinho dengan pendekatan pragmatisnya.

Manajemen MU mencoba membangun tim di rezim keempat ini dengan model Ferguson. MU merekrut 2 orang dekat Ferguson yaitu Ole Gunnar Solskjaer, dan Mike Phelan. Kita tunggu pendekatan model Ferguson ini, sukses untuk pertandingan sepak bola atau berhasil untuk bisnis klub sepak bola.

Gary Neville salah satu legenda pemain MU memberikan saran lain. MU perlu di reset ulang. Tak hanya pelatih dan pemain, tetapi manajemen MU pun perlu ditata ulang.

Kedua, MU punya 2 musuh yaitu Manchester City dan Liverpool. Celakanya, kedua klub ini sedang jaya di Liga Inggris. Keduanya berhasil menaklukkan MU dengan skor telak. Setiap pelatih MU punya misi khusus yaitu tidak kalah dari 2 tim ini.

Rivalitas derby MU dengan City karena mereka bertetangga dan memperebutkan gelar yang sama. Musuh abadi. Rivalitas dengan Liverpool karena faktor sejarah kota Manchester dan Liverpool sendiri. Serta persaingan kesuksesan 2 klub ini di Liga Inggris dan Liga Champion Eropa.

Ketiga, berbeda dengan liga lainnya yang memiliki 2 atau 3 klub kuat untuk menjadi juara, Liga Inggris ada 5 atau 6 klub yang bersaing ketat. Artinya, ada 2 klub yang berada di luar zona UCL. Bagi klub besar tidak ikut UCL berarti musibah. Klub kehilangan pendapatan besar baik dari tiket maupun siaran langsung.

Setelah kalah dari Liverpool, MU memiliki selisih 19 poin dengan pemuncak klasemen. Red Devil harus bekerja sangat keras menyingkirkan Chelsea di peringkat 4 karena rentangnya 11 poin. Selisih poin sangat besar di pekan 17 kompetisi.

Keempat, tangan-tangan industri menekan klub untuk memperhatikan aspek bisnis mereka. Kadang aspek bisnis ini melebihi aspek olah raga dan hiburan. Banyak pemain dijual maupun dibeli dengan harga sangat mahal hanya untuk kepentingan bisnis dan bukan aspek permainan sepak bola.

Untuk ilustrasi, selama 3 musim transfer Mourinho menghabiskan lebih dari 350 juta Poundsterling atau mencapai Rp 6,5 triliun. Luar biasa uang dihabiskan untuk memperoleh 3 piala yaitu piala Liga, piala FA dan piala UEFA. Investasi sebesar itu harus kembali dalam bentuk finansial atau reputasi tinggi untuk investasi berikutnya.

Banyaknya pemain penting MU menunda tanda tangan perpanjangan kontrak atau meminta gaji luar biasa memperlihatkan reputasi MU sedang menurun. Pemecatan Mourinho dengan kompensasi £24 juta memperlihatkan manajemen memiliki keyakinan kuat dan kendali penuh untuk mengejar 4 besar agar lolos ke UCL tahun depan. |*/rzl