Pelajaran dari Liverpool dan Tottenham di Semifinal UCL 2019

Jurgen Klopp (Foto: skysports.com)

10/06/2019 403

LABRITA.ID - Comeback merupakan istilah yang sedang populer di sepak bola. Dua finalis dari tanah Inggris berhasil mengejar ketertinggalannya. Liverpool menang 4-0 setelah tertinggal 0-3 dari Barcelona. Tottenham Hotspurs mengalahkan Ajax di Amsterdam dengan 3-2 setelah kalah 1-0 di London. 

Liverpool dan Tottenham datang ke Wanda Metropolitano, Madrid dengan gaya. Keyakinan akan kemampuan untuk memenangkan pertandingan masing-masing tim terlihat dengan jelas. Juergen Klopp dan Mauricio Pochettino berhasil membangun semangat tim.

Baca Juga: UEFA Champions League: Rentetan Kejutan dan Menanti Kelanjutannya

Beberapa pelajaran yang perlu ditanamkan oleh pelatih kepada pemainnya.  
Pertama, bola itu bulat. Bentuk bola sepak tanpa sudut ataupun pipih memberikan makna apapun dapat terjadi. Pertandingan di atas lapangan yang akan menentukan hasil akhirnya.  
 
Siapa yang akan menyangka tim dengan berkualitas seperti Barcelona bisa dua tahun berturut-turut kalah setelah unggul telak di Nou Camp. Tahun lalu di perempatfinal UCL, Barca kalah 0-3 dari AS Roma setelah unggul 4-1 di Nou Camp. AS Roma lolos ke semifinal UCL karena keunggulan gol tandang. Tahun ini terulang kembali. Barca sudah unggul 3-0 di kandang. Kecuali pendukung Liverpool, semua orang menjagokan Barcelona lolos ke final. Apa daya 4 goal masuk ke gawang Marc Andre ter Stegen. Barca pun gagal lagi lolos ke final UCL 2019. 

Baca Juga: Perlawanan Juergen Klopp

Kedua, Never Give up. Kaos Mo Salah yang dipakai saat leg 2 melawan Barca di Anfield, ‘berbicara’ untuk semua orang. Tanpa Mo Salah, Firmino dan Naby Keita di tim, lengkap sudah alasan Liverpool untuk kalah. Tertinggal 3-0 dan menjadi bulan-bulanan pandit bola selama 5 hari berurutan.Klopp menolak menyerah dan menularkan spirit pantang menyerah versi Jerman ke seluruh pemain dan pendukungnya. 
 
”Kalaupun harus kalah, kami harus kalah dengan gaya,” kata Klopp.

Klopp mengincar kemenangan di Anfield walaupun kelolosan ke final belum tentu diraih. Ketika diwawancara pasca pertandingan Klopp merendah.

“Mengalahkan Barcelona adalah sulit. Mencetak 4 gol adalah lebih sulit dan tidak kebobolan oleh mereka adalah paling sulit,” katanya. 
 
Mourinho memberikan kredit khusus kepada Klopp. Menurutnya mental merupakan faktor kunci keberhasilan Liverpool membalikkan keadaan.

“Segala yang terjadi di lapangan bersumber dari Juergen Klopp. Sikap mentalnya yang selalu ingin menang dan berbuat yang terbaik telah ditransformasi dengan baik kepada para pemainnya. Sikap mental inilah yang membedakan Liverpool dengan Barca di Anfield. Gol keempat Liverpool adalah bukti nyatanya,” kata Mou. 
 
Pochettino pun angkat bicara. Menurutnya pertandingan yang mereka menangkan bukan sekadar adu taktik tetapi lebih dari itu.

”Ini bukan masalah strategi atau taktik permainan. Ini masalah mental. Kami mampu mempertahankannya hingga akhir pertandingan. Mereka para pemain layak disebut pahlawan karena telah bertarung dengan gagah berani,” katanya. 
 
Ketiga, strategi dan taktik permainan yang tepat dari manajer. Pada leg 1, Liverpool mampu menguasai 53 persen penguasaan bola atas Barca. Hanya Bayern Muenchen versi Pep Guardiola yang mampu melakukannya di Nou Camp lima tahun yang lalu. Liverpool hanya kurang pada mencetak gol saja. 
Pergantian Salah dan Firmino dengan Divock Origi dan Xerdan Shaqiri menyeimbangkan peran seluruh pemain Liverpool. Betul saja, Wijnaldum yang masuk di awal babak kedua mencetak 2 gol berturut-turut, Origi 2 gol dan Trent Alexander Arnold memberikan 2 assist. 
 
Di satu sisi, Valverde mengulang kembali strategi yang sama terbukti starting line up yang sama di Anfield. Banyak pemain Barca yang mendapatkan penilaian sangat rendah. Klopp memanfaatkan betul situasi yang sama. Dengan pendekatan berbeda, Klopp mengoptimalkan betul peran seluruh pemain. Tidak ada pemain Liverpool yang mendapatkan penilaian buruk.

Baca Juga: Para Pelatih Tim To Eropa yang Terancam di Musim Depan

Pada semifinal lain, permainan Ajax yang terus terbuka walaupun sudah unggul dengan akumulasi 3-0 atas Tottenham Hotspur mendapat kritik keras dari Jose Mourinho. 

“Kita harus bisa membaca permainan bahkan kita sering menyesuaikan filosofi permainan dengan situasi yang ada. Ajax harusnya bermain lebih seimbang terutama rapat di pertahanan setelah unggul 2-0,” katanya. 
 
Keempat, jangan terlalu bergantung pada 1 pemain. Barca terlalu bergantung dengan Messi sehingga lawan berusaha keras ‘mematikannya’.

Dalam banyak kesempatan, Messi dibatasi ruang geraknya oleh 2-4 pemain Liverpool. Walaupun memiliki 5 tembakan dan 2 mengarah ke gawang, Messi 8 kali kehilangan bola. Aliran bola Barca sering tersendat karena Messi sering kesulitan melepaskan diri dari pengawalan pemain Liverpool. 
 
Liverpool memiliki banyak andalan. Di belakang ada Virgil van Dijk dan pemberi 2 umpan yang berbuah gol, Trent Alexander Arnold. Di tengah Fabinho, Wijnaldum, dan Henderson bekerja keras menghadang lawan dan mengalirkan bola. Di depan Sadio Mane terus merangsek ke depan sehingga memberikan ruang kepada Origi mencetak gol. 

Tanpa Salah dan Firmino semua pemain Liverpool berpartisipasi dalam menyerang dan bertahan. Banyak pandit bola memberikan nilai tinggi untuk penampilan dan daya juang Alisson Becker, Virgil van Dijk, Fabinho, Sadio Mane, dan Trent Alexander Arnold. 
 
Mouricio Pochettino yang kehilangan Harry Kane mampu mengkombinasikan Lucas Moura dengan Son Heun Min di depan. Kombinasi mereka berdua mampu menghancurkan pertahanan Ajax pada babak kedua di Johan Cruyff Arena. Hasilnya, Moura menghasilkan hatrick yang meloloskan Spurs ke final. 
 
Kelima, menyerang dan jangan lupakan pertahanan. 

”Saya tidak ingin pemain terburu-buru mencetak gol di awal pertandingan. Saya ingin seluruh pemain terlibat dalam pertahanan tim dan kami bisa mencetak 2 gol berurutan kapan saja. Begitulah cara bermainnya," kata Klopp.

Baca Juga: Para Pemain Liverpool yang Berhasil Dipoles Klopp

Hal tersebut terbukti. Wijnaldum mencetak gol menit 54 dan 56 hanya beberapa saat setelah masuk menggantikan Robertson. Kelengahan pertahanan Barca terlihat jelas ketika gagal mengantisipasi tendangan penjuru Trent. Origi yang menerima bola kemudian dengan mudah mencetak gol tanpa pengawalan pemain Barca. 
 
Garis pertahanan Ajax yang tetap tinggi setelah mengungguli Spurs 3-0 menyebabkan Lucas Moura punya kesempatan tiga kali mencetak gol di babak kedua. Tottenham bekerja keras menekan pertahanan Ajax sehingga meraih kemenangan 3-2 di kandang lawan. Hasilnya mereka berangkat ke final UCL 2019.

Penulis: Rizal